Senin, 07 Maret 2016

peserta didik,pendidikan di indonesia

1

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga atas izinya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ilmu pendidikan Islam yang membahas tentang peserta didik dalam pendidikan Islam tepat pada waktunya serta tak lupa sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan besar kita nabi Muhammad saw yang telah menuntun umatnya dari zaman kebodohan menuju zaman yang penuh dengan samudra ilmu pengetahuan seperti sa’at ini sehingga kami dapat mengambil beberapa karangan serta pendapat-pendapat para sahabat,tabi’in serta tabiut-tabi’in dalam menyelesikan tugas makalah ini serta kami tak lupa berterima kasih kepada dosen pengampu bp.Ari Ansori yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas makalah ilmu pendidikan Islam yang kebetuklan kami mendapat tema peserta didik dalam pendidikan Islam sehingga kami dapat menggali informasi dari buku-buku yang ada di perpustaka’an serta kamipun dapat banyak sekali ilmu-ilmu yang kaitanya dengan peserta didik dalam pendidikan Islam,namun selaku peserta didik kamipun banyak sekali kekurangan dalam menyusun makalah ini sehingga kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk memotivasi kami selaku penulis sehingga tulisan-tulisan kami yang akan datang menjadi lebih baik, baik dalam sistematika penulisan maupun dalam penyajian data-data yang kami peroleh agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.terlepas dari itu semua semoga makalah yang kami tulis ini dapat memberikan manfa’at bagi pembaca pada umumya dan bagi kami selaku penulis khususnya.


























DAFTAR ISI

 

 































PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

 

Pada kesempatan kali ini penulis akan mengupas materi tentang peserta didik dalam pendidikan Islam  karena dunian pendidikan tidak akan lepas dari peserta didik dan pendidik yang mana peserta didik dan pendidik merupakan komponen yang utama dalam suatu instansi pendidikan baik instansi berupa sekolah-sekolah,madrasah,maupun universitas baik yang bersifat formal maupun non formal karena kedua aspek tersebut merupakan komponen yang menentukan apakah proses pembelajaran dapat terlaksana sesuai dengan keinginan atau tidak.

Demikian pula dengan peserta didik pada makalah ini akan kami bahas agar peserta didik tidak hanya sekedar sebagai objek pendidikan tetapi pada sa’at-sa’at tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan,hal ini membuktikan bahwa peserta didik tidak hanya sekedar bersifat pasif lakasana cangkir kosong yang siap menerima air kapan saja dan dimana saja,akan tetapi peserta didik harus aktif,kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan pendidik,sekaligus dalam pengembangan ilmunya.

Konsep pendidik dan peserta didik dalam prespektif Islam memiliki karakteristik tersendiri yang sesuai dengan karakteristik pendidikan islam itu sendiri.karakteristik ini akan membedakan konsep pendidik dan peserta didik dalam pandangan pendidikan lainya. Hal itu juga dapat ditelusuri melalui tugas dan persyaratan ideal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik dan peserta peserta didik yang dikehendaki oleh Islam. Tentu semua itu tidak terlepas dari landasan ajaran Islam itu sendiri,yaitu al-Qur’an dan sunnah yang menginginkan perkembangan pendidik dan peserta didik tidak bertentangan dengan ajaran kedua landasan tersebut sesuai dengan landasan manusia

Jika karakteristik yang diinginkan oleh pendidik Islam tersebut dapat dipenuhi,maka pendidikan yang berkualitas niscaya akan dapat diraih. Untuk itu kajian dan analisis  filosofis sangat dibutuhkan dalam merumuskan konsep pendidik dan peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam sehingga diperoleh pemahaman yang utuh tentang kedua komponen tersebut














BAB II

PEMBAHASAN


1.PENGERTIAN PESERTA DIDIK


Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta  sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.

Sedangakn menurut beberapa pendapat peserta didik adalah:

Menurut Langeveld anak manusia itu memerlukan pendidikan karena ia berada dalam keadaan tidak berday (hulpeloosheid).[1]
Allah swt berfirman dalam QS.An-Nahl:78
“dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun,dan dia memberi kamu pendengaran,penglihatan,dan hati agar kamu bersyukur”

Peserta didik adalah suatu komponen dalam sistem pendidikan.[2] peserta didik juga diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur,jenjang,dan jenis pendidikan tertentu (Undang-undang Sisidiknas,pasal 1 ayat 4).[3]

Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis,pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.[4]

Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya, sebagai contoh seorang peserta didik mendapatkan buku pelajaran tertentu yang ia beli dari sebuah toko buku. Dapat anda bayangkan betapa banyak hal yang telah dilakukan orang lain dalam proses pembuatan dan pendistribusian buku tersebut, mulai dari pengetikan, penyetakan, hingga penjualan.





[1]. Drs. M. Nashir Ali, Dasar-dasar ilmu Mendidik,Mutiara,Jakarta,Tahun 1982,hlm.93
[2]. Ramayulis,ilmu pendidikan Islam,Jakarta:Kalam Mulia,2002,hlm.77
[3]. Bukhari umar,ilmu pendidikan Islam,Jakarta:AMZAH,2010,hlm.103
[4]. Ramayulis,Ilmu pendidikan Islam,Jakarta:Kalam Mulia,2002,hlm.77

2.CIRI-CIRI DAN KRITERIA PESERTA DIDIK

 


Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya. Dalam konteks ini seorang pendidik harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut.

Ciri-ciri peserta didik :

1.kelemahan dan ketak berdayaannya
2.berkemauan keras untuk berkembang
3.ingin menjadi diri sendiri (memperoleh kemampuan).[1]

Kriteria peserta didik:
Syamsul nizar mendeskripsikan  enam kriteria peserta didik, yaitu :

1.  peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri
2.  peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan
3. peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
4. peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
5. peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan  berkembang secara dinamis.[2]
           
Didalam proses pendidikan seorang peserta didik yang berpotensi adalah objek atau tujuan dari sebuah sistem pendidikan yang secara langsung berperan sebagai subjek atau individu yang perlu mendapat pengakuan dari lingkungan sesuai dengan keberadaan individu itu sendiri. Sehingga dengan pengakuan tersebut seorang peserta didik akan mengenal lingkungan dan mampu berkembang dan membentuk kepribadian sesuai dengan lingkungan yang dipilihnya dan mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya pada lingkungan tersebut.








[1] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Cetakan ke II, PT Rineka Cipta,     Jakarta, 2006, Hal 40
[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2006, Hal. 77

 

3. PERTUMBUHAN PESERTA DIDIK


Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi pertumbuhan anak itu bermacam-macam, tetapi dapat digolongkan menjadi 3 macam,
Yaitu:
1.periodesasi pertumbuhan yang berdasarkan biologis.
2.periodesasi pertumbuhan yang berdasarkan psikologis
3.Periodesasi pertumbuhan yang berdasarkan didaktis.[1]

1.Pertumbuhan yang berdasarkan biologis

Allah berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 67 yang artinya sebagai berikut:
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani,sesudah itu dari segumpal darah,kemudian dilahirkan kamu sebagai seorang anak,kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, diantara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami berbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).
(QS. Al-Mu’min:67)
Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa anak itu tumbuh dan pertumbuhan ini melalui fase-fase sebagai berikut:

1. Masa embrio (manusia dalam perut ibu)
2. Masa kanak-kanak
3.Masa kuat (Kuat jasmani dan rohani atau pikiranya)
4.Masa tua
5.Meninggal dunia[2]



















[1]. Drs. Sumadi Suryabrata, psikologi perkembangan tiga A, 1986, hlm. 85
[2]. Dra. Hj. Nur uhbiyati, ilmu pendidikan Islam


2.Pertumbuhan yang berdasarkan psikologis

Diantara ahli didik Islam yang mempunyai perhatian pendidikan terhadap anak berdasarkan psikologis ialah Ali Fikri. Menurut beliau pertumbuhan anak itu melalu 12 fase sebagai berikut:
Masa kanak-kanak; dari lahir sampai umur 7 tahun beliau mengatakan bahwa apabila anak telah sampai umur 40 hari ia telah dapat tersenyum dan dapat melihat. Pada sa’at ini anak juga telah dapat merasa sakit; merasakan hajat-hajat biologis.umur 6 bulan anak telah mempunyai kemauan. Umur 7 bulan anak telah tumbuh giginya. Mengarungi tahun kedua anak mulai dapat berjalan. Tahun ketiga pada diri anak telah terbentuk keinginan serta kemauan. Tahun keempat anak telah mempunyai ozaqiroh (ingatan). Tahun ketujuh ia dapat menetapkan sesuatu menurut hukum-hukum sendiri.anak pada umur ini jasmani dan rohani (akal) masih dalam taraf perkembangan. Meraka mengatur segala sesuatu secara egosentris
Masa berbicara; mullai usia 8 tahun sampai 14 tahun,masa ini juga dapat disebut sebagai periode cita-cita, sebab pada masa ini anak menuju ke arah segala sesuatu yang berhubungan erat dengan tabi’at dan akalnya. Pada masa ini orang tua harus menjaga jasmaninya, misalnya dengan olah raga, bekerja, dan lain-lain. Karena jiwa yang sehat terletak pada jasmani yang sehat.
Masa akil baligh: dari umur 15 sampai 21
Masa syabibah (adolesen): dari umur 22 sampai umur 26 tahun
Masa rujulah ( pemuda pertama atau dewasa): dari umur 29 sampai 42 tahun.
Masa kuhulah dari 43 sampai 49 tahun.
Masa umur menurun dari 50 sampai 56 tahun.
Masa kakek-kakek/nenek-nenek pertama dari 56 sampai 63 tahun.
Masa kakek-kakek/nenek-nenek kedua dari 64 sampai 75 tahun
Masa harom (pikun) dari 75 sampai 91
Masa meninggal


3.Pertumbuhan yang berdasarkan didaktis

Pertumbuhan yang didasarkan segi-segi didaktis atau paedagogis ini terutama berasal dari sabda rosul yang artinya sebagai berikut:
“Berkata anas; Bersabda Rosulullah saw; “Anak itu pada hari ketujuh dari lahirnya  disembelih akikoh dan diberi nama serta dicukur rambutnya,kemudian setelah umur 6 tahun dididik beradab,setelah 9 tahun dipisah tempat tidurnya, bila telah berumur 13 tahun dipukul karena meninggalkan sholat, setelah umur 16 tahun dikawinkan oleh orang tuanya (ayahnya) kemudian ayahnya berjabat tangan dan mengatakan: saya telah mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu. Saya mohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akherat…”

Berdasarkan hadist diatas telah diterangkan tahapan perkembangan manusian dari awal dilahirkan sampai usia 6 tahun anak anak harus dididik serta dijaga jasmani dan rohaninya agar tidak mengonsumsi apa-apa yang diharamkan dalam ajaran Islam pada usia ini peran orang tua sangan menentukan karena pada usia ini merupakan tanggung jawab bagi kedua orang tua untuk menerangakan mana yang baik dan mana yang buruk, setelah usia 6 tahun anak mulai memasuki pendidikan formal dan mulai mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan baik ilmu dunia maupun akherat setelah usia 9 tahun maka anak harus dipisah dari ranjang kedua orang tua karena pada usia ini sangat rawan jika masih satu ranjang dengan orang tua karena apabila anak melihat hubungan kedua orang tua yakni ayah dan ibu maka dikhawatirkan anak akan meniru apa yang dilihatnya karena pada usia ini anak terbiasa melakukan hal-hal yang dilihatnya dan setelah usia 13 tahun anak berkewajiban menjalankan apa yang ada didalam rukun Islam karena pada usia ini anak telah memasuki masa pubertas atau akil baligh dan bagi siapa yang meninggalkan sholat orang tua berhak memukulnya agar melakukan hal yang serupa untuk kedua kalinya,setelah anak memasuki usia 16 tahun seorang anak telah memasuki masa kedewasa’an nafsu birahinya (seksnya) yang banyak memerlukan penjaga’an yang ekstra ketat dari kedua orang tua agar tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan maka pada usia ini seorang ayah yang memiliki anak perempuan di izinkan untuk menikahkan anaknya agar mencegah dari hal-hal yang tidak di inginkan karena pada usia 16 tahun munurut ajaran Islam seseorang telah dikatakan dewasa.adapun mengenai hikmah pernikahan tersebut telah diterangkan dalam sabda nabi Muhammad saw yang artinya:
“Hai para pemuda apabila kamu telah mempunyai biaya, menikahlah ka rena menikah itu dapat menenangkan pandangan mata (hati) dan lebih menjaga farji. Dan barang siapa belum mampu menikah, maka berpuasalah, karena berpuasa itu dapat mengurangi syahwat”
Dan setelah memasuki usia ini yaitu 16 sampai 21 tahun maka seorang anak harus sudah dapat mandiri harus mulai belajar pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh orang tua agar anak tidak lagi bergantung pada orang tua karena pada sa’at dilahirkan sampai usia 7 tahun yang bertanggung jawab mendidik adalah ibu karena ibu yang lebih besar memiliki rasa kasih sayang terhad anak dan setelah memasuki usia 16 tahun maka ayah yang lebih dominan dalam mendidik anak bagaimana seorang anak mulai diberikan tanggung jawab dalam mengerjakan sesuatu yang harus selesai pada waktunya dan bagi anak perempuan pada usia ini letak tanggung jawab mendidik tetap pada ibu karena pada usia ini seorang anak perempuan harus mulai belajar pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan oleh ibu mulai dari memasak,menyetrika,mencuci baju,dll




4.KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU BAGI PESERTA DIDIK


Menuntut ilmu agama merupakan bagian dari ibadah, dimana setiap muslim diperintahkan untuk mempelajarinya, masing-masing sesuai kemampuan yang Allah berikan padanya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.”

Disamping hukum wajibnya menuntut ilmu syar’i, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya banyak sekali menyebutkan tentang keutamaan menuntut ilmu, yang seharusnya sebagai seorang muslim, menjadikan dalil-dalil tersebut sebagai penyemangat lalu berusaha  mengisi waktu-waktunya dengan mempelajari kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sebab hal itu akan menjadi pedoman hidup seorang hamba yang mengharapkan hidayah dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Berikut ini kami menyebutkan beberapa keutamaan ilmu yang disebutkan didalam Al-qur’an dan As-Sunnah :

. 1).  Ilmu adalah cahaya
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ  يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan . Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan  Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(QS.Al-Maidah:5-6)

Kedua ayat ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu, yang disifatkan sebagai cahaya yang membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan, berupa jalan yang menyelamatkan seorang hamba dari penyimpangan dan kesesatan, dan mengantarkan seorang hamba menuju keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan mereka dari kegelapan, kegelapan syirik, bid’ah, kemaksiatan dan kejahilan, menuju kepada cahaya tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan seluruh kebaikan.
Oleh karenanya,  jika seseorang lebih condong mengikuti hawa nafsunya, gemar melakukan kemaksiatan, yang menyebabkan hatinya menjadi gelap, maka ilmu akan sulit menempati hati yang gelap tersebut, sulit menghafal ayat- ayat Allah dan men-tadabburi-nya, sulit menghafal hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupannya, sebab tidak akan mungkin berkumpul dalam satu hati antara kegelapan maksiat dengan cahaya ilmu. Diantara bait-bait syair yang masyhur dari Imam Syafi’i tatkala Beliau mengadukan tentang buruknya hafalan Beliau kepada Imam Waki’ bin Jarrah, Beliau mengatakan:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ             فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ           وَنُوْرُ اللهِ لَا يُؤْتَى لِعَاصِي
Aku mengadukan kepada Waki’ keburukan hafalanku
Lalu Beliau membimbing aku untuk meninggalkan maksiat
Beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat

.2). Ilmu merupakan tanda kebaikan seorang hamba
Ketika seorang hamba diberi kemudahan untuk memahami dan mempelajari ilmu syar’i, itu menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya.
Kehidupannya menjadi berarti, masa depannya cemerlang, dan kenikmatan yang tak pernah dirasakan di dunia pun akan diraihnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
من يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamnya.”
( Muttafaq Alaihi )


Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عز وجل خَلَقَ خَلْقَهُ في ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عليهم من نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ من ذلك النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.”
(HR. Ahmad,Tirmidzi)

Bagi seorang muslim yang yakin dengan nasehat-nasehat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tentu saja sangat berkeinginan untuk andil dalam mendapatkan kebaikan yang dijanjikan Allah Ta’ala bagi para penuntut ilmu syar’i tersebut.
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar tatkala menjelaskan hadits Muawiyah yang telah disebutkan diatas:
لأن من لم يعرف أمور دينه لا يكون فقيها ولا طالب فقه فيصح أن يوصف بأنه ما أريد به الخير وفي ذلك بيان ظاهر لفضل العلماء على سائر الناس ولفضل التفقه في الدين على سائر العلوم
“Sebab orang yang tidak memahami perkara agamanya, dia bukanlah seorang yang faqih dan bukan pula seorang yang menuntut ilmu, sehingga tepat jika ia disifati sebagai orang yang tidak dikehendaki kebaikan untuknya. Ini merupakan penjelasan yang terang yang menunjukkan keutamaan para ulama dibanding seluruh manusia, dan menunjukkan keutamaan mendalami agama dibanding ilmu- ilmu lainnya.”

Saudaraku muslim!  Jadilah orang- orang terbaik yang dimuliakan Allah Azza Wajalla, dengan berusaha mempelajari agama Allah dan mengajarkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ من تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik- baik kalian adalah yang mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya.”
(HR.Bukhari)

.3). Ilmu agama menyelamatkan dari laknat Allah Azza Wajalla
Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّمٌ
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang belajar.”
(HR.Tirmidzi)

Berkata Al-Munawi dalam menjelaskan hadits ini: “dunia terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah lalu mengikuti hawa nafsunya.”

فكل عمل يعمله العبد ولا يكون طاعة لله وعبادة وعملا صالحا فهو باطل فإن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ما كان لله وإن نال بذلك العمل رئاسة ومالا فغاية المترئس أن يكون كفرعون وغاية المتمول أن يكون كقارون
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah: “Setiap amalan yang dilakukan seorang hamba yang tidak berbentuk ketaatan, ibadah dan amalan saleh maka amalan tersebut merupakan amalan yang batil, sebab dunia ini terlaknat dan terlaknat segala isinya kecuali sesuatu yang dilakukan karena Allah, meskipun amalan batil itu menyebabkan seorang meraih kepemimpinan dan harta, maka seorang pemimpin bisa menjadi Firaun, dan seorang yang gila harta bisa menjadi Qarun.”
Maka dengan menuntut ilmu dan mengajarkannya, akan menjadikan seorang hamba yang masuk kedalam kelompok yang akan meraih ridha-Nya, dan selamat dari kemurkaan dan siksa-Nya.

.4). Menuntut Ilmu, jalan menuju surga
Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu anha, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR.Muslim)

Hadits ini menerangkan bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengapa demikian? Ya, tatkala seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang haq dan yang batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan keikhlasan dan mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam , maka dia menjadi seorang hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan surga.

Banyak kaum muslimin yang beranggapan bahwa menuntut ilmu agama itu hanya tugas para santri yang duduk di pondok-pondok pesantren. Tentu ini merupakan persepsi yang salah, sebab setiap muslim telah diwajibkan untuk mempelajarinya, sebagaimana yang telah kita sebutkan dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
Hadits ini menjelaskan bahwa balasan yang Allah berikan kepada hambanya setimpal dengan usaha yang telah dia lakukan, sebagaimana dia menempuh jalan untuk mencari kehidupan hatinya dan keselamatan dirinya dari kebinasaan, maka Allah menjadikannya menempuh jalan yang ingin diraihnya tersebut.


.5). Ilmu lebih utama dari ibadah
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
فضل العلم أحب إلي من فضل العبادة و خير دينكم الورع
“Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara.”
(HR.Al-Hakim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan dimalam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.”
(HR.Abu Dawud)

Yang dimaksud hadits ini bahwa memiliki ilmu dengan cara menuntutnya, atau mengajarkannya, merupakan amalan ibadah yang lebih utama dibanding amalan ibadah lainnya, seperti shalat sunnah, berpuasa sunnah, dan yang lainnya. Bukan yang dimaksud hadits ini bahwa ilmu bukan bagian dari ibadah, namun maksudnya bahwa ilmu merupakan bagian ibadah yang paling mulia, bahkan bagian dari jihad fi sabilillah. Berkata Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah:
“Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih utama dari engkau mengajarkan ilmu kepada manusia.”

Beliau juga berkata:
“Tiada satu amalan yang lebih utama dari menuntut ilmu jika niatnya benar.”

Berkata Abu Darda’ Rahimahullah:
“Barangsiapa yang menyangka bahwa berangkat menuntut ilmu bukan amalan jihad, maka sungguh ia telah kurang pandangan dan akalnya.”

Masih banyak lagi keutamaan ilmu yang dijelaskan di dalam Al-qur’an dan Sunnah, namun semoga yang sedikit ini menjadi pemicu semangat kita untuk berusaha menggali warisan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang penuh berkah ini.

























BAB III

PENUTUP



KESIMPULAN


Berdasarkan uraian diatas maka pada bab ini kami mengambil kesimpulan bahwa peserta didik adalah suatu komponen dalam sistem pendidikan Islam. Peserta didik juga diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajar yang tersedia pada jalur,jenjang,dan jenis pendidikan tertentu serta peran orang tua sangat diperlukan dalam menyiapkan seorang peserta didik karena pendidikan yang pertama di peroleh oleh seorang peserta didik adalah sa’at berada dilingkungan keluarga sehingga peran kedua orang tua sangat diperlukan terutama ibu karena sa’at seorang anak dilahirkan hingga usia 7 tahun yang paling berperan dalam mendidik seorang anak adalah ibu karena ibu lebih berperasa’an dan lebih
Memiliki rasa kasih sayang barulah setelah usia 6 tahun seorang anak mulai memasuki pendidikan formal mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hinggga keperguruan tinggi selain itu seorang peserta didik haruslah memiliki rasa motivasi yang tinggi dalam menuntut ilmu karena dikatakan dalam sebuah hadits bahwasanya “barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka akan dimudahkan baginya jalan menuju surga” berdasarkan hadits diatas maka dapat disimpulkan bahwa seorang peserta didik haruslah memiliki niat untuk ibadah ketika menuntut ilmu karena Allah akan meninggikan derajat seorang yang mencari ilmu dapat diartikan bahwa kedudukan seorang yang memiliki ilmu sangatlah tinggi bahkan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa kedudukan seorang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang ahli ibadah karena memang untuk mencari kebahagiaan didunia haruslah dengan ilmu dan untuk mencapai kebahagiaan diakherat juga haruslah dengan ilmu jadi dengan kita berilmu selain memiliki kedudukan yang tinggi didunia artinya kita akan dihormati oleh teman teman kita dan apabila ilmu kita dapat bermanfa’at bagi orang lain maka pahala atas ilmu yang telah kita bagika kepada orang tersebut tidak akan terputus sampai hari kiamat sebagai mana diriwayatkan dalam suatu hadits bahwa jika meninggal anak adam akan terputus semua amalnya kecuali tiga perkara yaitu shodaqoh jariyah,ilmu yang bermanfa’at baginya serta anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.














DAFTAR PUSTAKA


1. Drs. M. Nashir Ali, Dasar-dasar ilmu Mendidik,Mutiara,Jakarta,Tahun 1982

2. Ramayulis,ilmu pendidikan Islam,Jakarta:Kalam Mulia,2002

3.Bukhari umar,ilmu pendidikan Islam,Jakarta:AMZAH,2010

4.Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Cetakan ke II, PT Rineka Cipta,Jakarta, 2006

5.Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2006

6.Drs. Sumadi Suryabrata, psikologi perkembangan tiga A, 1986

7.Dra. Hj. Nur uhbiyati, ilmu pendidikan Islam,Pustaka Setia,Bandung,2005

 








Quantity : Add to Cart

Tidak ada komentar:

Posting Komentar